Empat Mitos Proses Kreatif yang Tidak Dipercaya Joko Pinurbo

Empat Mitos Proses Kreatif yang Tidak Dipercaya Joko Pinurbo

Peserta membludak. Peserta yang datang melebihi kuota 40 orang yang ditetapkan panitia.

Para peserta tersebut hadir untuk mendengar Joko Pinurbo—yang akrab disapa Jokpin—dalam “Workshop Penulisan Puisi” di Kedai JBS pada Sabtu, 7 September 2019, dalam rangkaian Pra-Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest).

Anggitya Alfiansari sebagai moderator bertanya kepada Jokpin, “Apa sih puisi itu?” Jokpin tidak menjawab seperti jawaban di sekolah atau kampus. Ia bercerita.

“Saya hampir batal datang ke acara ini. Dua hari lalu, saya kena diare berat. Kenapa saya tiba-tiba kena diare? Apa karena sambal? Saya suka sambal. Tetapi, saya yakin bukan karena sambal. Saya menduga karena Jogja yang panas pada siang hari dan dingin pada malam hari.”

Kondisi cuaca dan diare yang menyapa Jokpin di Jogja mengulik memorinya saat mendatangi negara Kincir Angin. “Saya sempat ke Belanda. Di sana dingin sekali dan saya kena diare.”

Jokpin bercerita, ia bisa sembuh dari diare karena memorinya itu. “Puisi itu menarik, bisa lahir karena memori-memori kita. Sebab, semua orang punya memori,” ucap Jokpin semacam ingin menjawab pengertian dari puisi.

Setiap kata dari Jokpin disimak baik oleh peserta yang menyesaki ruang pelatihan.

Jokpin melontarkan pertanyaan serius, tetapi dibalas dengan tertawa oleh para peserta: “Apa kalian ingin menjadi penyair? Padahal, aku pengin berhenti.”

Banyak calon penyair yang gagal karena percaya pada mitos proses kreatif menulis puisi. Menurut Jokpin, ada empat mitos yang masih dipercaya oleh calon penyair, bahkan penyair senior.

Mitos pertama, puisi itu tidak bisa diedit. Ada penyair yang mengatakan kalau puisi itu tidak bisa diedit. Padahal, itu keliru. Puisi adalah bahasa. Bila ia bahasa maka proses penyuntingan pasti terjadi.

Misal, puisi-puisi Chairil Anwar. Chairil beberapa kali mencorat-coret puisinya sendiri. H.B. Jassin berhasil mendokumentasikan tulisan tangan Chairil.

Mitos kedua, menunggu ilham dari langit. Ilham itu dari bawah, bukan dari atas. Puisi lahir dari kehidupan sehari-hari dan tetes darah manusia. Semua dari bumi, bukan dari langit. Kita enggak bisa mencapai langit. Itu hanya nabi.

Mitos ketiga, harus menderita dulu. Jika Anda menderita dan sakit-sakitan, jelas enggak bisa menulis puisi. Siapa bilang Chairil Anwar menulis puisi karena ia menderita? Chairil enggak pernah bilang bahwa ia menulis puisi karena hidupnya menderita. Enggak.

Mitos keempat, menulis karena mood. Kalau mood-nya baik, baru menulis. Ini risiko tidak produktif. Mood itu diciptakan, bukan menunggu. Pada 1999—2005, Jokpin bisa menerbitkan lima buku puisi, padahal ia punya dua anak dan kerja di kantor.

Jokpin memang tidak percaya pada hal-hal umum yang menghambat proses kreatif. Menurutnya, menulis puisi seperti “Diagram Pohon”.  Akar adalah inti inspirasi; batang adalah tema; dan, dahan, ranting, dan daun adalah turunan dari tema (batang) tersebut.

“Apabila kalian menulis tentang cinta, maka kalian masih terpenjara,” pungkas Jokpin.