Eka Kurniawan: Global-Lokal Bukan Hal Baru

Eka Kurniawan: Global-Lokal Bukan Hal Baru

Persilangan dan persinggungan antarkarya sastra adalah hal yang niscaya. Bagi Eka Kurniawan, pertemuan tersebut bukan hal baru.

“Hal tersebut merupakan sesuatu yang alamiah, yang lahir bersamaan dengan sejarah kesusastraan itu sendiri,” ungkapnya di Hotel Melia Purosani saat memberikan Ceramah Literasi Joglitfest 2019 pada hari kedua, Sabtu (28/9/2019), bersama Tia Setiadi.

Acara yang bertema “Yogyakarta dalam Konstelasi Sastra Global-Lokal” tersebut banyak membincangkan saling-silang kebudayaan dari berbagai daerah, termasuk persilangan antarnegara dan kebudayaan.

“Perkawinan tersebut telah terjadi di La Mancha dalam Don Quixote yang berbahasa Spanyol, namun juga bisa diperkenalkan dalam bahasa Eropa yang lain,” ucapnya.

Selain karya-karya luar negeri, dalam kesusastraan Indonesia, persinggungan itu bisa ditemukan, seperti cerita silat S.H. Mintardja.

“Dalam buku tersebut, kita bisa menemukan tradisi novel wuxia dari China atau petualangan ala ksatria Eropa abad pertengahan, sebagaimana bisa menemukan persinggungan kisah ronin Jepang,” ucap alumnus Filsafat UGM ini.

Tentu, karya-karya tersebut sudah disesuaikan dengan konteks yang berbeda sehingga bisa dikatakan sebagai karya baru.

Bagi Eka, persinggungan antarkesusastraan sudah terhubung berabad-abad sebelum era internet ditemukan, dan bahkan saat era jejaring teks diciptakan oleh hyperlinks.

“Meskipun lebih bersifat tak langsung, satu karya terhubung dengan karya lain melintasi batas-batas teritorial kebudayaan yang menciptakan dan bahasanya,” tambah Eka.

Batas-batas tersebut bertemu di toko buku dan perpustakaan, kemudian diulas sebagai kritik sastra atau resensi buku yang memperkenalkannya ke hadapan publik.

“Titik-titik perjumpaan tersebut berfungsi sama baiknya dengan internet yang kita kenal sekarang,” terang penulis Cantik Itu Luka ini.