Dongeng dan Cita-Cita Anak-anak

Dongeng dan Cita-Cita Anak-anak

Anak-anak  SDN Gedangan 01, Hargomulyo, Gedang Sari, Gunung Kidul berkumpul dalam satu kelas. Sambil menunggu Arif Rahmanto, pendongeng dari Bantul, masuk ruang, Saung Mimpi mengambil alih memberi pengantar. Percakapan Saung Mimpi dan anak-anak pun akrab dan menyenangkan.

Joglitfest bekerjasama dengan Saung Mimpi mengadakan kegiatan “Sastra Bergerak: Pustaka dan Mendongeng Keliling”, Minggu, 22 Agustus 2019. Acara tersebut  sekaligus pertanda rangkaian terakhir pra-acara Joglitfest 2019.

Setelah kakak-kakak dari Saung Mimpi berbicara, masuklah Kak Arif, sapaan akrabnya. Kak Arif mengawali salam dan dijawab semangat oleh anak-anak. Lalu, Kak Arif bertanya. “Apa semua di sini berasal dari SDN Gedangan 01?” “Iya, Kak,” jawab anak-anak serentak.

Kak Arif bercerita mengenai pentingnya membaca buku. Kalau tidak rajin baca buku, akan menjadi anak bodoh, seperti Putri di kerajaan zaman dulu kala.

“Suatu ketika,” Kak Arif mulai bercerita, “Ada seorang Putri pada zaman dahulu kala yang malas baca buku. Ia tidak rajin belajar, sukanya bermalas-malasan. Saat sang gurunya melontarkan pertanyaan satu apel tambah satu apel, jumlahnya berapa, Putri? Sang Putri hanya menjawab, ‘aku tidak suka apel, Pak Guru’,” ujar Kak Arif yang disimak anak-anak dengan saksama.

Dalam cerita tersebut, kak Arif memberi nasihat pada anak-anak menggunakan medium dongeng. Sebab, anak kecil sangat suka didongengin. Aktivitas mendongeng mulai tergerus karena hadirnya gawai. Itu tampak saat Kak Arif bertanya pada anak-anak.

“Siapa yang masih didongengin oleh orang tuanya?”

Anak-anak tidak menjawab. Namun, saat ditanya, siapa yang suka main hape di rumah? Banyak anak yang mengacungkan tangan.

Saung Mimpi adalah komunitas anak yang berdiri pada Mei 2013. Berawal dari keresahan terhadap cita-cita anak Indonesia yang seragam, komunitas ini menginisiasi kelompok belajar sekaligus bermain anak-anak agar anak-anak memiliki cita-cita yang beragam.

Jika ditanya apa cita-cita anak-anak, kebanyakan mereka menjawab ingin menjadi dokter, guru, dan polisi. Padahal, menurut Edo,  Ketua Saung Mimpi, masih banyak profesi lain yang tak kalah kerennya. Saung Mimpi hadir untuk menyebarkan informasi mengenai profesi selain yang dikenal anak-anak.

Kegiatan ini adalah rangkaian keempat atau yang terakhir dari kegiatan “Sastra Bergerak dan Mendongeng Keliling” yang sudah digelar di tiga tempat, di kabupaten berbeda. Pertama¸ “Kang Acep Yonny: Anak-Anak Harus Bangga pada Dirinya”; kedua, “M. Aris Kusbiyanto: Kekuatan Membaca, Kekuatan Cerita”; dan ketiga, “Sulap dan Dongeng Penghibur”.