Dhanu Priyo Prabowo: Ojo Isin yen Kowe Sinau Sastra Jawa

Dhanu Priyo Prabowo: Ojo Isin yen Kowe Sinau Sastra Jawa

Generasi milenial Jawa lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ketimbang bahasa ibu mereka. Dhanu Priyo Prabowo menegaskan bahwa seharusnya tidak demikian karena Bahasa Jawa punya sejarah panjang yang membanggakan.

Karena itu pula, selama 90 menit ia menggunakan Bahasa Jawa–sesekali krama inggil, lebih sering ngoko–di hadapan 60 peserta Workshop Sastra Jawa Joglitfest 2019 sesi 8 di Hotel Melia Purosani, Minggu (29/9/2019). Tema mata acara puncak itu adalah “Falsafah Unen-Unen dalam Pembentukan Kepribadian Jawa”.

Dhanu meyakinkan siswa-siswi peserta untuk percaya diri, tidak merasa malu mempelajari sastra Jawa.

Ojo due rasa mindher yen kowe sinau sastra Jawa,” ucap Dhanu.

Peradaban Jawa sudah begitu tua, jauh sebelum Indonesia lahir. Di Israel yang tak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, ada satu universitas yang memelajari Bahasa Jawa.

Pada masa penjajajan Belanda, orang Belanda tidak saja menjarah kekayaan alam nusantara, tetapi juga naskah-naskah sastra Jawa. Kitab-kitab kuna digotong ke Belanda dan belum dikembalikan hingga saat ini. Mereka lalu mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Tentu saja dengan tujuan melanggengkan penjajahan mereka. Bahhkan, beberapa naskah Kerajaan Mataram saat ini hanya ada di Belanda. Mataram sendiri hanya memiliki salinannya.