Daya Magnet Yogyakarta

Daya Magnet Yogyakarta

Memilih menjadi seorang sastrawan bukan perkara mudah. Seseorang harus kerja rangkap atau kerja apa saja untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Semua itu terjadi dalam kehidupan sastra di Yogyakarta,” ucap Tirto Suwondo dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Namun, hidup dengan keterbatasan tidak menghambat sastrawan di Yogyakarta. Mereka terbantu tumbuh-kembangnya media massa koran dari masa-masa awal kemerdekaan. Pada masa merintis karier, hampir semua sastrawan menghidupi diri dari menulis di media massa.

“Lewat media-media itulah, para sastrawan berkiprah dari generasi ke generasi hingga generasi terbaru yang tak hanya ditopang koran dan majalah,” ungkap Tirto.

Seminar sastra yang bertajuk “Yogyakarta dalam Konstelasi Sastra Global-Lokal” ini dipandu oleh Asep Saiful Anwar, penulis novel Al-Kudus yang juga dosen di FIB UGM.

Selain itu, hadir pula Suminto A. Sayuti, Guru Besar FBS UNY, sebagai pemateri kedua. Bagi Pak Minto, sapaan akrabnya, Yogyakarta merupakan sumber kreatif bagi sastrawan di Yogyakarta.

“Yogyakarta hadir, berposisi sentral dalam menegaskan posisi kreator,” ucap Pak Minto.

Namun, nyatanya tidak banyak sastrawan yang menulis tentang Yogyakarta–walaupun hampir sebagian besar karyanya ditulis di Yogyakarta. Oleh karena itu, Saut Situmorang mengusulkan untuk membaginya dalam dua tema besar.

“Yogya sebagai tempat menulis karya adalah hal yang berbeda dengan Yogya sebagai karya,” ucap Saut yang sekaligus menjadi peserta aktif Joglitfest 2019.

Kesan lain juga dirasakan oleh M. Faizi. Pria asal Madura tersebut pergi ke Yogyakarta bukan untuk menjadi seorang penyair atau belajar sastra.

“Saya ke Yogyakarta hanya agar bisa diizinkan pergi jauh menggunakan bus,” ucapnya santai.

Sampai saat ini, M. Faizi tidak pernah menulis tentang Yogyakarta. Ia selalu menulis perjalanan via bus dari Madura-Yogyakarta atau sebaliknya.

Barangkali Yogyakarta memang magnet bagi banyak orang sehingga mereka ingin datang ke kota ini.

Infrastruktur modern tersedia melimpah sehingga Yogyakarta menjadi kota impian bagi banyak calon penulis. Bahkan, beberapa penulis dari luar Yogyakarta telah memilih untuk menetap di Yogyakarta.