Dana, Data, dan Sumber Daya Komunitas

Dana, Data, dan Sumber Daya Komunitas

Jumat (27/9/2019) kursi-kursi di Ruang Barong Hotel Cavinton Yogyakarta telah terisi penuh oleh para peserta Workshop Tata Kelola dan Manajemen Komunitas Joglitfest 2019.

Para peserta rupanya masih setia dan antusias mengikuti sesi kedua workshopsetelah pada sesi sebelumnya menikmati cerita-cerita menarik dari para pelaku dalam komunitas. Sesi yang membicangkan tengan Manajemen Komunitas itu dimulai sejak pukul 13.15 hingga 16.00 WIB.

Bernando J. Sujibto, tanpa berniat menunda lagi, segera membuka kegiatan dan memberikan kesempatan kepada para pembicara untuk memaparkan beberapa poin terkait manajemen komunitas. Yustina W. Nugraheni (Bianelle Yogyakarta), Muhidin M. Dahlan (Indonesia Boekoe), dan M. Aan Mansyur (Katakerja) dihadirkan sebagai pembicara.

Pembicaraan dimulai dari Mbak Neni, dan para peserta terlihat mulai memegang pensil yang telah disediakan panitia, bersiap menggoreskan catatan di atas buku catatan. Mbak Neni sendiri dalam diskusi tersebut memfokuskan pembicaraannya terkait pendanaan. Adapun Muhidin M. Dahlan berfokus pada persoalan data, dan M. Aan Mansyur perihal sumber daya komunitas.

“Saya mendapatkan bagian untuk berbicara perihal dana, khususnya bagaimana pemerintah menjadi kolaborator dalam berkomunitas, sebab di zaman ini, jika kita dan komunitas bekerja sendiri dalam lingkup yang luas, maka akan dipastikan akan kesulitan bahkan hampir tidak mungkin. Lantaran itu, kita perlu memetakan atau mengukur siapa saja yang menjadi kolaborator kita, sehingga bisa melangkah lebih jauh. Harus diakui, terkait pendanaan, terkadang kesannya ketika meminta uang untuk dana kepada pemerintah, ya memang sulit, padahal uang tersebut adalah dana untuk kita. Nah, jelasnya, sejak sekarang harus ada kesadaran dalam diri bahwa dana yang dikelola oleh pemerintah tersebut adalah dana publik, dan kita berhak atas dana tersebut,” papar Mbak Neni.

Muhidin M. Dahlan, sebagaimana biasanya dengan style agak “nyentrik”, langsung membahas perihal data komunitas. Ia memulai dari definisi kata “komunitas” itu sendiri, lantas memaparkan pandangannya tentang data, dan kemungkinan untuk eksis bagi para pelaku dalam komunitas.

“Kalau merujuk ke kamus, maka ‘komunitas’ itu sendiri merupakan kelompok organisme (orang) yang hidup dan saling berinteraksi. Komunitas itu sebenarnya adalah kumpulan yang sifatnya organik. Hari ini, kita perlu melihat peluang-peluang untuk bisa eksis sebagai komunitas. Contohnya, keberadaan akun Info Seni Yogya. Contoh lain, komunitas atau perkumpulan yang bagi saya andai didirikan punya potensi untuk eksis, ya tentu yang belum ada di Yogya. Misalnya, orang yang bersama-sama memiliki hobi me-layout buku. Atau, bisa juga semacam akun Sastra Arab yang berfokus pada teks Arab, bahkan yang punya perhatian pada teks atau bahasa Spanyol. Mereka jelas punya peluang untuk eksis,” jelas pria kelahiran Donggala, 12 Mei 1978 itu.

Pembicara ketiga, yakni M. Aan Mansyur, lebih mengarahkan pembicaraan ke arah aktivitas yang ia geluti bersama rekan-rekannya di Makassar, khususunya perihal sumber daya mereka. Komunitas yang ia maksud adalah Komunitas Ininnawa, yang fokus perrgerakannya ialah pada isu transformasi sosial. “Di Ininnawa, kami setiap akhir tahun menyelenggarakan pertemuan antarkomunitas. Ininnawa yang kini menjadi Katakerja, terisi oleh komunitas-komunitas lain yang tetap fokus bergerak pada isu transformasi sosial, misalnya mendayagunakan literasi untuk mendekati isu-isu tersebut,” papar Aan.

“Pernah suatu ketika, kami bergerak di lingkungan desa, sementara sumber daya atau anggota kami adalah mahasiswa dengan pandangan orang kota. Dapat dikatakan, kami yang telah dicemari cara berpikir kota, pertama melihat yang terdapat di desa adalah masalah, semisal dari jalur literasi, langsung berpikir bahwa minat baca di sana sangat rendah. Kini, cara pandang itu coba kami putar. Kami mencoba melihat sesuatu dari prespektif untuk menemukan kekuatan individu-individu atau komunitas di mana kami bekerja,” terang si penyair Melihat Api Bekerja itu.

Baik aspek pendanaan, pengetahuan tentang data, maupun sumber daya dalam komunitas, memang merupakan hal-hal kunci bagi keberlangsungan hidup komunitas terkait. Dengan demikian, dengan diselenggarakannya Workshop Tata Kelola dan Manajemen Komunitas Joglitfest 2019, tentu tidak sedikit hal diperoleh para peserta, untuk kemudian diterapkan dalam aktivitas berkomunitas mereka. (Ilham)