Bonari Nabonenar: Ketika Bahasa Jawa Hilang, Saya Tidak Ingin Menangisinya

Bonari Nabonenar: Ketika Bahasa Jawa Hilang, Saya Tidak Ingin Menangisinya

Sabtu siang (28/9/2019) di selasar Benteng Vredeburg Yogyakarta yang sejuk, Bonari Nabonenar membicarakan sastra Jawa. Ia pemateri diskusi “Gerakan Literasi Sastra Jawa” bersama Zuly Kristianto.

Sastra, bagi Bonari, merupakan alat untuk merawat ingatan. Manifestasi pandangan hidup dibekukan dalam teks-teks sastra, sehingga sastra memperhalus akal budi. Dengan pengertian itu, sastra merupakan jalan untuk membangun jiwa.

“Manusia yang utuh terdiri dari jiwa dan raga. Sastra merupakan jalan untuk membangun jiwa,” kata Bonari.

Hingga saat ini, perhatian pemerintah terhadap pembangunan jiwa masyarakat begitu rendah dibandingkan dengan pembangunan fisik. Sebagian besar anggaran negara dicurahkan ke sektor-sektor fisik. Sektor jiwa, seperti sastra, mendapatkan jatah kecil saja.

Sastra terpinggirkan, terlebih sastra Jawa. Padahal, menurut Bonari, sastra Jawa sudah ada sebelum Indonesia berdiri. Ia muncul bersama kelahiran peradaban Jawa. Sebab itulah, definisi sastra Jawa menurutnya adalah sastra yang ditulis menggunakan medium bahasa Jawa. Meskipun demikian, ia masih memberi definisi longgar bahwa sastra berbahasa Indonesia sekalipun, asalkan penuh kejawaan, dapat diaebut sastra Jawa.

Saat ini, sastra Jawa telah kehilangan aksaranya. Ia tidak lagi ditulis menggunakan aksara Jawa melainkan aksara latin. Kondisi ini tak dapat dihindari.

“Sastra Jawa yang kita rawat paling tidak menggunakan bahasa Jawa meskipun ditulis menggunakan aksara latin,” ucap Bonari.

Bonari juga tak keberatan jika muatan lokal bahasa Jawa dihapus di sekolah-sekolah selama terdapat kompensasi yang memadai, yaitu karawitan. Tak dapat disangkal, pembelajaran sastra Jawa lebih mudah dipahami melalui lagu. Lagu-lagu Didi Kempot misalnya. Ia bahkan tak akan menyesal seandainya nanti Bahasa Jawa hilang.

“Ketika Bahasa Jawa hilang, saya tidak ingin menangisinya. Saya hanya tidak ingin menggunakan Bahasa Jawa secara serampangan.”

Bagi Bonari, penggunaan dan penulisan Jawa harus patuh pada aturan-aturan yang berlaku. Penulisan “Jawa” misalnya, harus ditulis “Jawa”, bukan “Jowo” sebagaimana penulisan pada umumnya saat ini.

“Pada tahap tertentu, (Bahasa Jawa) lebih baik tidak dipakai. Kalau mau pakai, ya, dirawat. Kalau kita membrengsekkan aturan bahasa, bisa jadi chaos.”