Bioskop Sastra: Menonton Sang Penari

Bioskop Sastra: Menonton Sang Penari

Bioskop Sastra Joglitfest yang berlangsung pada Senin (30/9/2019) di Benteng Vredeburg, memutar film berjudul Sang Penari. Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Srintil yang ingin sekali menadi penari ronggeng, seperti yang diceritakan dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Sebelum menjadi penari ronggeng, Srintil dibicarakan oleh tetangga dengan sudut pandang baik secara adat. Ia pun digadang-gadang seperti penari ronggeng pada masa lalu, Nisa namanya, di kelompok ronggeng Dukuh Paruk. Srintil pun bergabung dengan kelompok ronggeng Dukuh Paruk dan mengadakan pegelaran ronggeng yang sudah sekian lama redup.

Pilihan Srintil menjadi penari ronggeng sempat tidak diterima oleh Rasus. Sebab, menjadi ronggeng tidak benar menurutnya. Namun, akhirnya Rasus menerima Srintil menjadi penari ronggeng dengan perasaan berat dan memberikan sebuah keris.

Rasus yang masih belum sepenuhnya menerima keputusan Srintil memilih pergi dan menjadi tentara. Dari situlah hiruk pikuk hidup mereka jalani masing-masing. Srintil menjadi ronggeng dengan menjalani adat dan Rasus yang belajar membaca sebelum menjadi tentara.

Pemutaran berlangsung di ruang gelap dan sunyi. Penonton fokus menyaksikan pemutaran film Sang Penari. Cerita dalam film ini mendapatkan tepuk tangan dari pononton yang memenuhi kursi dari depan sampai belakang.

Riski, salah satu penonton Bioskop Sastra, menyatakan bahwa film ini cukup terbuka dari segi film maupun materinya.

“Saya mengira penari ronggeng itu hanya sekadar menari dan pentas saja. Namun, setelah menonton film ini, saya tahu asal mula ronggeng itu masih berhubungan dengan seks juga. Cerita itu sangat mengagetkan saya sebenarnya,” kata Riski.

Selain itu, Riski juga mengomentari acara tersebut. Baginya, acara tersebut penting untuk mengenalkan film independen pada masyarakat.

Hal yang sama juga diungkapkan Tri Wahyudi, penanggung jawab Bioskop Sastra. Bioskop Sastra penting karena saat ini film bisa menjadi medium cukup dengan dengan masyarakat.

“Saya harap pemutara film ini bisa bersinergi untuk memfilmkan karya-karya sastra besar untuk dinikmati oleh semua orang,” pungkasnya. (Achmad Sudiyono Efendi)