Bincang Sastra: Era Digital adalah Keniscayaan

Bincang Sastra: Era Digital adalah Keniscayaan

Di Selasar Benteng Vredeburg, di tengah Pasar Buku Joglitfest 2019, panitia menyelenggarakan Bincang Sastra “Majalah dalam Era Digital” pada Minggu (29/09/2019).

Pinto Anugrah dan Kurnia Effendi menjadi pembahas utama dan ditemani dua moderator yang aktif.

Kurnia Effendi selaku pendiri majalah Majas sadar betul, dunia digital mesti dimasuki, jangan dihindari.

“Digitalisasi adalah keniscayaan sebab dunia digital menghilangkan batas. Bukan saja mengikuti zaman, tetapi memang penting,” kata Kurnia Effendi.

Namun, menurut Pinto Anugrah—penulis novel Jemput Terbawa—pada era digital ini banyak web yang belum punya ideologi tertentu.

“Ada tulisan yang viral di media sosial, tetapi pada akhirnya dibukukan juga. Tidak fokus ke dunia digital saja. Digital dipakai sebagai alat, bukan memunculkan karya tersebut,” tambah Pinto.

“Banyak buku laku bermula lahir di dunia internet, misal dari platform Wattpad,” sambut Kurnia Effendi.

Ada peserta Bincang Sastra yang bertanya mengenai penerbit dan untung rugi pada era digital sekarang.

Begini tanggapan Kurnia: “Penerbit butuh modal. Jika penerbit menerbitkan buku, mereka harus memperhitungkan apakah buku itu terjual atau enggak.”

Percakapan antara pembicara utama dan peserta pun terjalin. Menurut seorang peserta yang tidak mau menyebutkan namanya, tidak semua yang viral di media sosial laku jika dibukukan. Ada beberapa novel yang sempat viral di media sosial, tetapi tidak laku ketika dibukukan.

Pertanyaan moderator yang cukup baik adalah, “Apa sih tantangan besar transfer digital?”

Menurut Pinto, pada zaman ia awal menulis, ia merasakan betapa beratnya menembus media konvensional. Namun, pada era digital, hal itu mulai terkikis. Para penulis baru tidak lagi repot-repot mengirimkan tulisan mereka ke media konvensional sebab sudah banyak media daring yang menyediakan kolom sastra, misal puisi dan cerita pendek.