Bercak Darah Rasialisme dari Cerita Seno Gumira Ajidarma

Bercak Darah Rasialisme dari Cerita Seno Gumira Ajidarma

Malam kedua Rupa Sastra Joglitfest 2019, Minggu (29/9/2019), satu cerita pendek Seno Gumira Ajidarma dibacakan. Judulnya “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Pembacaan bertempat di bagian belakang Benteng Vredeburg, di seberang panggung Kirdjomuljo.

Para pembaca duduk berdekatan membentuk lingkaran. Mereka membaca cerpen itu bergantian. Setiap orang membaca sampai ia merasa cukup kemudian orang di sampingnya melanjutkan.

“Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi–tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Di hadapanku duduk wanita itu. Rambutnya dicat merah. Cokelat sebetulnya. Tapi orang-orang menyebutnya merah. Padahal merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah adalah orang-orang yang berbahaya.”

Seorang perempuan membaca bagian pembuka “Clara”, yang bercerita tentang seorang polisi dan rasialisme terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia pada akhir Orde Baru. Si polisi menghadapi seorang perempuan Tionghoa. Tetapi ia menghadapi dilema batin lalu bergulat dengan dirinya.

Ia mengakui dirinya brengsek sebab bernafsu terhadap perempuan itu sekaligus merasa kasihan. Ia punya hati nurani, tentu saja. Tapi, ia menyangkal dirinya sebagai subjek sebab saat memakai seragam polisi ia hanyalah seonggok objek, hanya patuh pada perintah, hanya memiliki insting gebuk.

“Clara” juga diceritakan dari sudut pandang perempuan tadi. Seorang Tionghoa ketakutan karena kedua adiknya diperkosa lalu dibunuh. Ibunya juga diperkosa kemudian gantung diri. Ia takut tetapi tidak dapat berbuat sesuatu kecuali meminta perlindungan kepada aparat sementara aparat sama brengseknya.

Ini cerita pendek tragis dan penuh darah. Simbol-simbol kebinatangan manusia menyeruak di sepanjang cerita. Rasisme itu terkutuk.

Ipehnur, penggambar perempuan Rupa Sastra malam itu, menggambar gambar-gambar berdarah. Seorang perempuan mendongak, tampak putus asa. Mata. Bercak darah. Mata menangis. Kaki-kaki yang menginjak kemanusiaan.

Malam itu, “Clara” dibaca hingga dua kali. Ipehnur mengganti mika, menggoyang gambar. Suasana tragis meliputi area Rupa Sastra.