Bejan Matur: Kebimbangan Antara Turki dan Kurdi

Bejan Matur: Kebimbangan Antara Turki dan Kurdi

Beberapa komunitas Islam di Indonesia sangat menyanjung kehebatan dan kemajuan negara Turki.

Selain sejarah masa lalunya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan semacam menjadi “mesiah” untuk Islam.

Erdogan dipandang mengembalikan kejayaan Islam di Turki, bahkan seluruh Islam di dunia.

Di balik media yang masif mengabarkan “kehebatan” Erdogan, ada sebuah peristiwa yang ditutupi oleh media Turki, yaitu mengenai etnis Kurdi.

Sepenggal kisah tentang etnis Kurdi dan negara Turki tergambar dari penjelasan Bejan Matur, seorang penyair dan esais terkenal dari negara dua benua itu.

Matur lahir dari keluarga Alevi Kurdi pada 14 September 1968 di Marash, Turki Tenggara.

Dalam seminar tersebut, dia bercerita bagaimana dia hidup di antara dua akar budaya: Kurdi dan Turki.

Matur bersama Bernando J. Sujibto—meraih pascasarjana Sosiologi di Universitas Selcuk, Turki—hadir dalam “Seminar Series & International Literary Workshop”, rangkaian Pra-Joglitfest 2019 di Ruang Interaktive Center Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Senin, 26 Agustus 2019.

Pada umur tiga tahun, dia dibawa oleh keluarga Turki–yang hidup dengan bahasa dan budaya Turki. Dia hidup sebagai orang asing. Lalu, dia kembali ke ibunya, tapi lagi-lagi dia menjadi orang asing dalam keluarga Kurdinya.

Kegamangan indentitas tersebut membuat dia fokus pada masalah minoritas, masalah perempuan, politik Kurdi, dan perkembangan isu-isu Armenia.

Menurut Cak BJ (nama panggilan Bernando J. Sujibto), “Dia (Matur) menjadi jembatan mencari identitas Turki kekinian karena di Turki cukup bermasalah yang namanya minoritas yang melawan. Dia tidak ingin mempunyai ideologi tertentu, sebab ideologi tertentu akan menyempitkan sesuatu.”

Banyak peserta yang antusias dengan bertanya dan menanggapi Matur. Ada beberapa peserta yang mengaitkan isu Kurdi di Turki dengan masalah Papua di Indonesia. Kedua etnis ini sama-sama ingin berpisah dari negara mereka yang sekarang.

Saking antusiasnya peserta kepada Matur, porsi bicara Cak BJ menjadi kurang sehingga kami bertanya di luar forum mengenai sastra Turki.

Menurut Cak BJ, sastra Turki terbagi dua. Sastra klasik, dengan tokoh di antaranya Ahmet Hamdi Tanpinar, dan sastra modern dengan tokoh Orhan Pamuk. Pada 1970-an, sastrawan Turki terus bereksperimen. Harus disadari bahwa Turki punya sastra tulisan sebab sejak era Ottoman, mereka sudah biasa tulis-menulis. Apalagi, saat sekularisasi terjadi di Turki, masyarakatnya disuguhi banyak literatur dari Barat. Masyarakat Turki punya daya beli buku yang kuat dan kepolisian mereka tidak menoleransi tindakan pembajakan buku.

Saat seminar internasional tersebut selesai, kami menyempatkan bertanya kepada Matur tentang siapa penulis yang memengaruhi proses kreatifnya dalam dunia sastra. Dia menjawab bahwa penulis yang memengaruhinya adalah Ahmet Hamdi Tanpınar, Yahya Kemal Beyatlı, Yunus Emre, Jalaluddin Rumi, dan Orhan Pamuk. (Safar Banggai)