Aneka Rupa Sastra* | Shinta Maharani**

Aneka Rupa Sastra* | Shinta Maharani**

Festival Sastra Yogyakarta tak hanya melibatkan sastrawan, tapijuga seniman dari bidang lain. Upaya mendekatkan sastra dengan masyarakat.

Museum Benteng Vredeburg disulap seperti pasar malam sastra. Buku-buku sejumlah penerbit memenuhi sepanjang koridor jalan masuk Benteng. Dinding Benteng Vredeburg penuh mural bertulisan kalimat-kalimat puitis.

Arif Hidayat, misalnya. Menulis puisi tentang masa lalu yang dilengkapi dengan gambar tubuh manusia yang diimpit benda-benda berbentuk kotak. Ada pula mural berlatar merah yang bertulisan kalimat digerus rayap. Mural ini menggunakan karakter wajah manusia dan anjing.

Pengunjung memadati panggung utama Kirdjomuljo yang menampilkan pentas musik dan pembacaan karya sastra. Para pemusik membawakan lagu-lagu bertemakan sastra. Ada sastra Jawa dan sastra Indonesia beriring musik tradisional, misalnya sentuhan seni tradisional gandrung Banyuwangi, Jawa Timur.

Penyanyi Kua Etnika, Silir Pujiwati, menghibur pengunjung melalui tembang-tembang Jawa. “Indonesia kaya warna musik tradisional, salah satunya gandrung,” kata Silir di panggung, Sabtu malam pekan lalu.

Suasana pasar malam “sastra” tersebut merupakan bagian dari Festival Sastra Yogyakarta atau Joglitfest yang puncaknya pada 27-30 September 2019. Sastrawan, akademisi, komunitas, penerbit, lembaga pemerintah, lembaga swasta, seniman, dan penyanyi berkumpul dalam acara tersebut. Festival ini dikuratori oleh Hamdy Salad, Tia Setiadi, Irwan Bajang, Saut Situmorang, dan Purwadmadi.

Festival digelar oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Dirjen kKebudayaan Kemendikbud. “Persiapan kegiatan dimulai sejak Februari 2019, dengan rapat-rapat pendahuluan, menghubungi komunitas-komunitas, menyiapkan konsep awal,” kata Ketua Umum Festival, Suharmono Arimba. “Rencana (festival) ini digelar rutin setiap tahun.”

Kali ini, panitia dan kurator mengetengahkan tema “Gregah”, dari bahasa Jawa yang berarti kebangkitan dalam menyambut dan menyerap sesuatu yang datang luar dirinya. “Tujuannya mendekatkan publik dengan dunia sastra,” kata salah satu kurator festival, Hamdy Salad.

Festival sastra di Yogyakarta mempetemukan sastra dari berbagai aliran, dari klasik hingga kontemporer. Panitia memilih 50 peserta (penyair, cerpenis, dan novelis) dari kalangan muda dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun jumlah total sastrawan yang hadir sebanyak 120 orang. Mereka antara lain Joko Pinurbo, Aan Mansyur, Kurnia Effendi, Ahda Imran, Aslan Abidin, Eka Kurniawan, Abdul Wahid B.S., Kiki Sulistiyo, Irman Syah, Wayan Jengki Sunarta, Dedy Tri Riyadi, Mutia Sukma, Budi P. Hatees, Willy Ana, Ayi Jufridar, Raymon Lemosol, dan Syaifuddin Gani.

Panitia juga menyuguhkan pertunjukan sastra Jawa yang lekat dengan Yogyakarta. Di daerah ini banyak kajian tentang sastra Jawa di kampus. Pertunjukan sastra Jawa seperti macapat, juga banyak dijalankan komunitas. Namun sastra Jawa, menurut Hamdy, hanya dinikmati kalangan tertentu di komunitas-komunitas. “Acara sastra Jawa yang dijalankan Dinas Kebudayaan selama ini terasa eksklusif,” kata Hamdi.

Untuk menarik publik lebih luas, festival menggunakan konsep alih wahana. Geguritan atau puisi Jawa ditransformasikan menjadi musikalisasi puisi dengan melibatkan berbagai komunitas. Satu di antara komunitas yang terlibat adalah Jejak Imaji, kelompok belajar sastra yang aktif dalam kegiatan musikalisasi puisi. Jejak Imaji dikenal lewat musikalisasi sejumlah puisi, di antaranya karya Subagio Sastrowardoyo, W.S.Rendra, dan Mustafa W Hasyim.

Ada pula pertunjukan pantomim serta pemanggungan dan pembacaan sastra pada sesi sore hingga malam hari. Festival itu juga melibatkan perupa untuk mendekatkan sastra dengan publik melalui visual-visual gambar. Ada sesi rupa sastra, yakni visualisasi puisi, cerpen, novel, dan naskah drama. Karya tersebut kemudian dipajang di berbagai ruang publik, seperti stasiun, bandara, terminal, kampus, dan jalan.

Perupa Enka Komariah menggambar di atas kertas yang disorot proyektor. Gambar-gambar itu bicara tentang Babad Trunojoyo, kisah adipati di Madura yang terlibat dalam perjuangan di Jawa melawan penjajah. Perupa Alwin Hidayat menafsir cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Dia membuat gambar pada tenda angkringan. Citraan yang ia bangun di antaranya berupa tengkorak dan kepala manusia dalam latar berwarna hitam.

Festival juga mempertemukan naskah-naskah penulis dalam bentuk draf dengan para penerbit. Ada pula pentas tari, teater, dan pantomim hingga pameran manuskrip kuno Jawa di perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Skripsi, tesis, dan disertasi dalam bahasa Jawa juga diperkenalkan kepublik. “Visualisasi seperti itu harapannya lebih menarik minat publik dalam mengenal sastra,” kata Hamdy.

Sebelum acara puncak, menurut Hamdy, festival ini diwarnai dengan berbagai kegiatan sejak 20 Agustus lalu. Ada workshop penulisan, seminar, mendongeng, pentas sastra, hingga lomba yang melibatkan sejumlah komunitas di Kabupaten Bantu, Kulon Progo, dan Sleman.

 

*) Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo, pada 4 Oktober 2019.

**) maharanitenanan@gmail.com