Anak-Anak Itu Mengarang Cerita Buat Para Kekasih

Anak-Anak Itu Mengarang Cerita Buat Para Kekasih

Akhir pekan (29/09/2019) di Museum Benteng Vredeburg, sekumpulan anak merebut perhatian para pengunjung. Mereka mengular ke depan gerbang benteng sebelah barat, seperti sedang menaiki bus, dan melintasi jalan bergeronjal.

Bus itu penuh, dan memaksa anak-anak yang sedang dalam perjalanan ke sekolah itu berdiri. Gerakan mereka lincah dan membuat sore itu jadi menyenangkan. Para pengunjung, yang melihat anak-anak itu berpantomim, segera melingkari mereka dengan antusias.

Anak-anak ini adalah penampil yang sama dengan hari sebelumnya. Mereka berasal dari rumah pantomime Yogyakarta dan Siswa SD Muhammadiyah Kleco Kotagede. Hari ini mereka membawakan reportoar berjudul Cerita Buat Para Kekasih, terinspirasi dari cerpen Agus Noor dengan judul yang sama.

Jamaludin Latief, guru pendamping anak-anak itu, mengatakan bahwa mereka membuat cerita versi sendiri dengan semangat bermain-main.

“Judul itu yang menginspirasi kami sebab teramat singkat waktu prosesnya, dan juga terlalu berat untuk anak-anak. Kami tidak sepenuhnya menvisualkan cerpen tersebut. Kami mengarang cerita sendiri,” kata Jamal.

Ceritanya, anak-anak berangkat ke sekolah naik bus. Setiba di sekolah, mereka masuk ruang kelas, dan seorang guru bernama Pak Marko menulis di papan: “Cerita Buat Para Kekasih”. Itu tugas yang harus mereka karang hari itu.

Kemudian satu per satu, anak-anak maju, menceritakan karangannya dalam beragam rupa dan gerak tubuh. Di akhir sesi kelas, mereka membagikan cerita mereka kepada penonton dalam sepotong amplop.

“Kemarin kami membawa cerita Pelajaran Mengarang. Besok lagi, kami akan menampilkan Filosofi Kopi,” papar Jamal, yang namanya di pergaulan teater Yogyakarta dikenal sebagai aktor mumpuni.

Begitulah. Pertunjukan pantomime yang berlangsung sejak jam 16.00 tersebut, berakhir ketika matahari nyaris surup. (Rachman Habib)