Amor Fati: Mencintai Takdir

Amor Fati: Mencintai Takdir

Buku puisi berjudul Amor Fati karya Wayan Jengki Sunarta dibedah pada hari terakhir Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest), Senin, (30/9/2019), sejak pukul 10.00 hingga 12.30 WIB di selasar Benteng Vredeburg.

Jengki hadir di panggung sebagai penulis buku tersebut dan Dwi Raharyoso—lulusan Pascasarjana Ilmu Sastra UGM—sebagai pengulas, sedangkan Farisi Al, penggiat Komunitas Kutub, menjadi moderator.

“Apakah buku puisi ini terhindar dari diksi klise?” pertanyaan moderator langsung tertuju kepada Jengki.

Amor Fati  berisi 60 puisi, masa penciptaan dari 2010 sampai 2019. Aku bagi menjadi tiga bab. Bab pertama, ‘Sepasang Bayang’. Kedua, ‘Waktu Merapuh’. Ketiga, ‘Bayang yang Hilang’. Per bab ada benang merah. ‘Sepasang Bayang’ tentang dunia asmara. ‘Waktu Merapuh’ tentang kefanaan. ‘Bayang yang Hilang’ tentang renungan tentang kematian,” jengki menjelaskan anatomi buku terbitan Pustaka Ekspresi itu.

Jengki menambahkan, “Amor Fati itu dari bahasa Latin, yang artinya ‘mencintai takdir’. Puisi-puisi ini mengalami editing berkali-kali. Aku berusaha menggunakan bahasa sederhana, tetapi berusaha menghindari diksi klise dan basi. Aku berusaha puisiku tidak saja dirasakan oleh sastrawan, tetapi juga orang awam.”

Lain hal tanggapan Yoso. Menurutnya, “Jengki sudah mencapai estetika puitiknya sehingga kalau kita lihat buku ini terbuka. Saya posisikan buku ini sebagai kediaman Jengki, yang menerima semua pembaca dari berbagai latar belakang.”

Yoso menganggap bahwa porsi artikulasi, idiom, dan metafora yang dipilih Jengki dalam buku tersebut sangat universal. Namun, Yoso juga mengungkapkan kritik bahwa dalam Amor Fati tidak ada kebaruan yang sangat signifikan.