Alih Wahana Film dalam Dunia Sastra

Alih Wahana Film dalam Dunia Sastra

Alih wahana karya sastra menjadi sebuah film maupun sebaliknya bukan hal baru dalam dunia sastra dan dunia film Indonesia. Pada pertengahan Agustus 2019, karya monemental Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, diadaptasi ke layar bioskop dengan judul yang sama.

Adaptasi tersebut menuai pro dan kontra. Beberapa pembaca Bumi Manusia merasa tidak puas dan Hanung Bramantyo dinyatakan gagal menyutradarai film tersebut. Lalu, bagaimana seharusnya film yang dialihwahanakan dari sebuah karya sastra atau sebaliknya?

Oleh karena itu, Joglitfest 2019 menghadirkan Abidah El Khalieqy dan Ifa Isfansyah untuk membincangkan proses alih wahana karya sastra menjadi sebuah film atau sebaliknya pada Senin (30/9/2019). Dalam diskusi yang bertajuk “Sastra dan Film: Berjarak atau Berpisah” tersebut, Abidah bercerita pengalaman proses novelnya Perempuang Berkalung Sorban menjadi film.

Perempuan Berkalung Sorban ditulis pada 2000 dan baru diminta pihak Star Vision setahun setelahnya. Awalnya, buku tersebut ditulis untuk kepentingan nonkomersial bersama sebuah LSM dan disebarluaskan ke berbagai tempat, terutama pondok pesantren di berbagai daerah.

“Namun, pada 2001 buku tersebut dicetak ulang percetakan tanpa seizin penulis dan penanggung jawab,” ungkap Abidah.

Kemalangan buku yang disebarluas tanpa sepengetahuan penulis tersebut membawa berkah bagi Abidah.

“Buku tersebut ditemukan oleh Chand Parwez Servia, produser Star Vision. ‘wah, film ini sangat filmis’,” ucap Abidah menirukan Chand Parwes.

Proses tersebut ternyata tidak membuat Perempuan Berkalung Sorban rilis menjadi film. Abidah mengungkapkan bahwa ada tiga naskah skenario dan 3 sutradara yang sudah menggarap tahap awal film itu.

“Namun, di pihak produser ada kekhawatiran dan memprediksi akan menuai kontroversi,” kata penulis novel Kartini yang diadaptasi dari film itu.

Pihak rumah produksi memberanikan diri untuk merilis film tersebut pada 2008, saat film-film islami seperti Ayat-Ayat Cinta yang diadapstasi dari novel Habibur Rahman ramai di pasar.

“Barulah Chand Parwez berani untuk merilis Perempuan Berkalung Sorban dan Hanung Bramantyo menjadi sutradaranya,” papar Abidah.

Alih wahana karya sastra ke film bukan perkara mudah. Abidah seringkali bolak-balik memeriksa naskah skenario.

“Namun, ketika di lapangan, sutradara melakukan banyak perubahan. Ada penambahan dan pengurangan di beberapa sisi,” ujar Abidah. “Itu adalah hak sutradara.”

Hal inilah yang juga diamini oleh Ifa Isfansyah, sutradara film Sang Penari. Bagi Ifa, banyak karya sastra ditulis tidak untuk kepentingan bisnis.

“Oleh karena itu, film tidak mampu mengambil semua tema yang ada dalam karya sastra. Film harus mengambil satu sudut pandang dari karya tersebut,” ucap suami Kamila Andini ini.

Selain itu, banyak film di Indonesia berjalan dengan logika komersial. Hampir dari 140-150 film dalam setahun, menurut Ifa, dibuat dengan logika bisnis.

“Kreativitas mengikuti logika bisnis. Mulai dari siapa sasaran penonton hingga berapa biaya yang dibutuhkan,” papar Ifa.