Alfian Dippahatang: Nostalgia Surat Cinta dan Perempuan

Alfian Dippahatang: Nostalgia Surat Cinta dan Perempuan

Alfian Dippahatang, Ida Fitri, Irwan Segara, dan Mustafa Ismail hadir sebagai pembicara dalam kegiatan Bincang Sastra Milenial JOGLITFEST 2019 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 9 Bantul.

Sabtu pagi (28/9/2019) itu, mereka dibuat tersenyum oleh jawaban para siswa perihal definisi milenial yang ditanyakan Adrian Eksa, sang moderator. Anak-anak dengan serentak dan semarak menjawab bahwa milenial adalah, “Tersakiti!”

Dari keempat pembicara yang dihadirkan itu, nama Alfian Dippahatang adalah yang paling mencuri perhatian. Sebab, ia merupakan penulis yang berusia paling dekat dengan generasi milenial. Alfian sendiri lahir pada 3 Desember 1994, dan ia pun tak menampik hal itu.

Dihadapkan pada para siswa, seketika yang muncul dalam ingatannya adalah kenangan tentang masa sekolahnya yang karib dengan surat cinta dan perempuan.

“Saya dan adik-adik yang hadir di musala ini sama-sama milenial. Mudahnya mengetahui arti milenial, ya dengan mencari di internet atau Google. Nah, seketika peristiwa itu menandakan bahwa kita adalah generasi milenial, generasi yang memandayagunakan teknologi. Terkait istilah itu, yang seketika teringat di kepala saya adalah surat dan perempuan. Kalian bisa menebak surat apa yang saya maksud,” kelakar pria kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan itu.

“Saya karib dengan surat cinta ketika SMP, dan barangkali bisa dikatakan bisa bertahan menulis hingga kini lantaran sejarah itu. Waktu itu saya menyukai seorang perempuan, tetapi seperti gagu untuk mengungkapkannya. Nah, dengan media surat cinta itulah saya jadi terkesan romantis,” kenang penulis kumpulan cerpen Bertarung dalam Sarung (KPG, 2019) itu.

Alfian, sembari memasang senyum, menjelaskan lebih jauh alasan penggunaan surat cinta tersebut, sekaligus mengaitkannya dengan konteks milenial.

“Maklum, pada masa itu, bagi kami handphone belum terlalu populer seperti sekarang ini, sehingga menaklukkan perasaan perempuan ya dengan media surat cinta itu. Tetapi perlahan mulai muncul kesadaran bahwa yang saya tulis hanya itu-itu saja. Rupanya, saya hanya pandai membaca peristiwa, tetapi di sisi lain kurang membaca buku. Ya, saya kurang membaca!” jelasnya.

Pria yang terpilih sebagai salah satu peserta Residensi Penulis Indonesia 2019, Komite Buku Nasional KEMENDIKBUD itu kemudian berpesan kepada para siswa sebelum memungkasi acara.

“Nah, kalau mau menjadi penulis, banyak-banyaklah membaca buku. Generasi milenial tetap harus banyak membaca sebagaimana seorang penulis Turki kenamaan bernama Orhan pamuk, yang menjadikan buku sebagai doa penuntun hari-harinya. Buku-buku karangan Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohamad, dan lain-lain penting untuk kalian baca. Temukan buku-buku mereka, atau buku-buku yang lainnya, yang bisa memancing dan memicumu untuk menulis!”

Acara hari itu ditutup dengan tepuk tangan meriah para siswa. Kepada para siswa yang bertanya, diberikan pula door prize berupa buku dari panitia. (Ilham)